In Indonesia, we don’t say “selamat tinggal”, but we say “Kepergianmu bukan sekadar langkah menjauh, melainkan babak baru yang tak lagi memerlukan kehadiranku di dalamnya. Aku belajar bahwa tidak semua perpisahan memerlukan air mata, sebagian hanya membutuhkan keikhlasan untuk menerima bahwa waktu telah usai menulis kisah kita. Maka, jika ini yang terbaik, biarlah aku melepasmu tanpa penyesalan—dengan kepala tegak, namun hati yang perlahan retak. Sebab ‘selamat tinggal’ tak pernah benar-benar berarti selamat; ia hanyalah cara paling sopan untuk menyebut kehilangan.”
in Indonesia we don’t say “i love you” but we say
“mencintaimu selayaknya aliran sungai yang menjadikannya jalan kebaikan
sebagai sebuah pelepas dahaga. saat engkau hadir membawa sekeranjang cinta,
saat rindu memberi itu nyata, dan pada saat terpaan terik matahari beserta
perjuangan melewati gunung sahara, yang tak lagi semenakutkan itu karena kau
ada. aku mencintaimu seperti aliran sungai, yang menjadikan jalan kebaikan
sebagai penenang jiwa. saat detak jantungmu selaras dengan ucapan doa dalam
setiap hembusan napas. hidupmu, bersamaku. dan bahkan, jiwamu, selalu dalam
genggamanmu. hadirmu, cintamu, senyummu, bahkan apapun tentang dirimu, selalu
cukup untukku. dan disaat kau mendengar kisah cinta Adam dan Hawa, disitulah
kau bisa mengingat, bahwa apapun di dalamnya, selalu ada bagain terindah.
selayaknya kisah cinta kita
iyeu teuing asli na foto saha tapi kuurang asup keun heula jang tugas wkwkwkkwkkwk
di zaman yang sudah maju kita harus lebih berhati hati agar kita tidak rugi karna pintar nya zaman yang sudah maju
ai keur leutik teler ku tunduh ayeuna mah teler ku sagala pidunya